Page Nav

HIDE

Artikel Baru :

latest

Tauhid : dasar utama penyucian jiwa - kaidah 1

الْقَاعِدَةُ الْأُولَى Kaidah Pertama التَّوْحِيدُ أَصْلُ مَا تَزْكُو بِهِ النُّفُوسُ “Tauhid adalah pokok utama yang dengannya jiwa-jiwa me...


الْقَاعِدَةُ الْأُولَى

Kaidah Pertama

التَّوْحِيدُ أَصْلُ مَا تَزْكُو بِهِ النُّفُوسُ

“Tauhid adalah pokok utama yang dengannya jiwa-jiwa menjadi suci.”

إِنَّ التَّوْحِيدَ هُوَ الْغَايَةُ الَّتِي مِنْ أَجْلِهَا خَلَقَنَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَأَوْجَدَنَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾.

Sesungguhnya tauhid adalah tujuan Allah  menciptakan dan mengadakan kita, sebagaimana firman-Nya  : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

وَهُوَ أَيْضًا مَحْوَرُ دَعْوَةِ الْأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾.

Tauhid juga merupakan inti dakwah para nabi dan rasul, sebagaimana Allah  berfirman: “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan): sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”

وَالتَّوْحِيدُ هُوَ أَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ لِلدُّخُولِ فِي دِينِ الْإِسْلَامِ، وَكَذٰلِكَ هُوَ أَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى الدَّاعِيَةِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُعَلِّمَهُ لِلنَّاسِ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عِنْدَمَا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ: «إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى».

Tauhid adalah perkara pertama yang wajib bagi seseorang untuk masuk ke dalam agama Islam. Demikian pula, tauhid adalah hal pertama yang wajib diajarkan seorang dai kepada manusia. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda kepada Mu‘adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah .” (HR. Bukhori no 7372)

وَقَدْ تَوَعَّدَ اللَّهُ تَعَالَى الَّذِينَ لَا يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بِالتَّوْحِيدِ وَالْإِيمَانِ بِالْعَذَابِ الشَّدِيدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ ۝ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ﴾.

Allah  mengancam orang-orang yang tidak menyucikan diri mereka dengan tauhid dan iman dengan azab yang sangat keras pada hari kiamat. Allah  berfirman: “Celakalah orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir terhadap akhirat.”

قَالَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي تَفْسِيرِ الْآيَةِ السَّابِقَةِ: «هِيَ التَّوْحِيدُ وَالْإِيمَانُ الَّذِي يَزْكُو بِهِ الْقَلْبُ؛ فَإِنَّهُ يَتَضَمَّنُ نَفْيَ إِلٰهِيَّةِ مَا سِوَى الْحَقِّ مِنَ الْقَلْبِ، وَإِثْبَاتَ إِلٰهِيَّةِ الْحَقِّ فِي الْقَلْبِ، وَهُوَ حَقِيقَةُ (لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ)، وَهٰذَا أَصْلُ مَا تَزْكُو بِهِ الْقُلُوبُ».

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat sebelumnya: “Itu adalah tauhid dan iman yang dengannya hati menjadi suci. Tauhid mencakup penafian sesembahan selain Allah  dari dalam hati, serta menetapkan ketuhanan Allah yang haq di dalam hati. Inilah hakikat ‘Lā ilāha illallāh’, dan inilah pokok utama yang menjadikan hati bersih.” (Majmu' al Fatawa : 10/97)

وَقَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللَّهُ: «قَالَ أَكْثَرُ الْمُفَسِّرِينَ مِنَ السَّلَفِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ: هِيَ التَّوْحِيدُ؛ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَالْإِيمَانُ الَّذِي يَزْكُو بِهِ الْقَلْبُ… وَهُوَ أَصْلُ كُلِّ زَكَاةٍ وَنَمَاءٍ…».

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Kebanyakan ahli tafsir dari kalangan salaf dan sesudah mereka mengatakan: yang dimaksud adalah tauhid, yaitu persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah , dan iman yang dengannya hati menjadi bersih… Itulah asal setiap kesucian dan pertumbuhan.” (Ighotsatul Lahfan : 1/79)

وَكَمَا أَنَّ التَّوْحِيدَ هُوَ أَصْلُ مَا تَزْكُو بِهِ النُّفُوسُ وَتَطْهُرُ، فَإِنَّ الشِّرْكَ هُوَ أَشَدُّ مَا يُدَنِّسُ النُّفُوسَ وَيُفْسِدُهَا، بَلْ هُوَ مُحِيطٌ بِجَمِيعِ الْأَعْمَالِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾.

Sebagaimana tauhid adalah pokok yang menyucikan dan membersihkan jiwa, maka syirik adalah perkara paling besar yang mengotori dan merusaknya. Bahkan syirik dapat menghapus seluruh amal, sebagaimana firman Allah “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: jika engkau berbuat syirik, niscaya akan terhapus amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang rugi.”

وَهُوَ الذَّنْبُ الَّذِي لَا يَغْفِرُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبَدًا لِمَنْ مَاتَ عَلَيْهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ﴾.

Syirik adalah dosa yang tidak akan Allah  ampuni selama-lamanya bagi orang yang meninggal dalam keadaan melakukannya. Sebagaimana firman Allah ﷻ “Sesungguhnya Allah  tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”

وَحَرَّمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ عَلَى كُلِّ مَنْ أَشْرَكَ مَعَهُ غَيْرَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾.

Allah  mengharamkan surga bagi setiap orang yang menyekutukan-Nya dengan sesuatu selain-Nya. Sebagaimana firman Allah ﷻ “Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka Allah haramkan baginya surga, tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.”

فَإِذَا حَقَّقَ الْعَبْدُ التَّوْحِيدَ حَصَلَتْ لَهُ الزَّكَاةُ الْكَامِلَةُ، وَحَصَلَتْ لَهُ الْهِدَايَةُ وَالْأَمْنُ التَّامَّانِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ﴾.

Apabila seorang hamba merealisasikan tauhid, maka ia akan memperoleh kesucian yang sempurna, mendapatkan petunjuk dan keamanan yang sempurna di dunia maupun akhirat. Sebagaimana firman Allah ﷻ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

فَمَتَى أَخْلَصَ الْعَبْدُ الذُّلَّ لِلَّهِ وَالْمَحَبَّةَ لَهُ خَلَصَتْ أَعْمَالُهُ وَصَلَحَتْ، وَزَكَتْ نَفْسُهُ وَطَابَتْ، وَمَتَى أَدْخَلَ عَلَيْهَا مَا يَشُوبُهَا مِنْ شَوَائِبِ الشِّرْكِ دَخَلَ عَلَى نَفْسِهِ مِنَ الدَّنَسِ وَالتَّدْسِيَةِ بِحَسَبِ ذٰلِكَ.

Kapan saja seorang hamba memurnikan ketundukan dan kecintaannya hanya kepada Allah , maka amal-amalnya akan menjadi bersih dan baik, jiwanya menjadi suci dan baik pula. Namun ketika ia memasukkan unsur-unsur syirik ke dalam dirinya, maka akan masuk pula berbagai kotoran dan kerusakan ke dalam jiwanya sesuai kadar syirik tersebut.

فَلَا زَكَاةَ لِلنَّفْسِ إِلَّا بِتَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ، وَإِفْرَادِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْعِبَادَةِ، وَإِخْلَاصِ الْعَمَلِ لَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ﴾.

Tidak ada kesucian bagi jiwa kecuali dengan merealisasikan tauhid, mengesakan Allah  dalam ibadah, dan memurnikan amal hanya untuk-Nya. Sebagaimana firman Allah ﷻ “Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.”

وَلَا زَكَاةَ لِلنَّفْسِ إِلَّا بِتَخْلِيصِهَا مِنَ الشِّرْكِ بِجَمِيعِ أَنْوَاعِهِ، وَتَخْلِيصِهَا مِنْ كُلِّ مَا يُنَاقِضُ التَّوْحِيدَ وَيُضَعِّفُهُ.

Dan tidak ada kesucian bagi jiwa kecuali dengan membersihkannya dari segala bentuk syirik, serta dari segala sesuatu yang bertentangan dengan tauhid dan melemahkannya.


> Muqoddimah

Tidak ada komentar