Page Nav

HIDE

Artikel Baru :

latest

Kitab al Insanul Kamil fil Fikris Shufi (Muqoddimah)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ الْمُقَدِّمَةُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيّ...



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

الْمُقَدِّمَةُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْأَمِينِ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَبَعْدُ:

Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang terpercaya, Muhammad, juga kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan. Amma ba‘du:

فَإِنَّ لِلْإِسْلَامِ أُصُولًا وَأَحْكَامًا مَعْلُومَةً مُمَيَّزَةً، مَنْ الْتَزَمَ بِهَا فَهُوَ كَامِلُ الْإِسْلَامِ، فَإِنْ أَخَلَّ بِشَيْءٍ مِنْ أَحْكَامِهِ نَقَصَ مِنْ إِسْلَامِهِ بِقَدْرِ ذَلِكَ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَفِيَ عَنْهُ وَصْفُ الْإِسْلَامِ، وَإِنْ أَخَلَّ بِأَصْلِهِ قَاصِدًا عَنْ عِلْمٍ وَرِضًى، وَأَظْهَرَ ذَلِكَ، انْتَفَى عَنْهُ الْوَصْفُ كُلِّيًّا، فَإِنْ لَمْ يُظْهِرْهُ فَلَهُ اسْمُ الْإِسْلَامِ الظَّاهِرِ.

Sesungguhnya Islam memiliki pokok-pokok dan hukum-hukum yang jelas dan khusus. Barang siapa berpegang teguh dengannya maka sempurnalah keislamannya. Jika ia mengurangi sebagian hukumnya, maka berkurang pula keislamannya sesuai kadar kekurangan itu, tanpa hilang darinya status sebagai muslim. Namun apabila ia merusak pokok dasar Islam dengan sengaja, berdasarkan ilmu dan kerelaan, lalu menampakkannya, maka hilanglah sifat Islam darinya secara keseluruhan. Jika ia tidak menampakkannya, maka baginya tetap hukum Islam secara lahiriah.

وَمِنْهُ يَتَبَيَّنُ أَنَّ الْإِسْلَامَ فِي أُصُولِهِ وَأَحْكَامِهِ وَخَصَائِصِهِ ثَابِتٌ لَا يَتَغَيَّرُ، وَالْمُنْتَسِبُونَ إِلَيْهِ يَتَغَيَّرُونَ وَيَخْتَلِفُونَ، فَمِنْهُمُ الْكَامِلُ، وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ، وَمِنْهُمُ الْمُفَرِّطُ، وَمِنْهُمْ مَنْ لَيْسَ لَهُ مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا الِاسْمُ.

Dari sini tampak bahwa Islam dalam pokok-pokok, hukum-hukum, dan karakteristiknya adalah tetap dan tidak berubah. Adapun orang-orang yang mengaku berislam, mereka berubah-ubah dan berbeda-beda. Di antara mereka ada yang sempurna, ada yang di bawah itu, ada yang lalai, dan ada pula yang tidak memiliki bagian dari Islam kecuali namanya saja.

وَهَكَذَا كُلُّ مِلَّةٍ وَنِحْلَةٍ قَدْ ثَبَتَتْ أُصُولُهَا وَاسْتَقَرَّتْ، لَا تَتَغَيَّرُ، وَأَهْلُهَا يَتَغَيَّرُونَ وَيَتَفَاوَتُونَ بِحَسَبِ تَطْبِيقِهِمْ لِأُصُولِهَا وَفُرُوعِهَا.

Demikian pula setiap agama dan aliran; pokok-pokoknya telah tetap dan mapan, tidak berubah. Akan tetapi para penganutnya berubah-ubah dan bertingkat-tingkat sesuai dengan penerapan mereka terhadap pokok dan cabang ajarannya.

وَالتَّصَوُّفُ فِكْرَةٌ وَنِحْلَةٌ وَمِلَّةٌ قَدِيمَةٌ، مَوْجُودَةٌ قَبْلَ الْإِسْلَامِ، أُصُولُهَا وَأَحْكَامُهَا مَعْرُوفَةٌ مُسْتَقِرَّةٌ ثَابِتَةٌ ـ بِإِقْرَارِ كَافَّةِ الْبَاحِثِينَ، مِنْ مُتَصَوِّفَةٍ وَغَيْرِ مُتَصَوِّفَةٍ وَمُسْتَشْرِقِينَ ـ وَالْمُنْتَسِبُونَ إِلَيْهِ:

  • مِنْهُمُ الْمُتَحَقِّقُ بِالتَّصَوُّفِ.
  • وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ.
  • وَمِنْهُمْ مَنْ لَيْسَ لَهُ إِلَّا الِاسْمُ دُونَ الْحَقِيقَةِ.

Tasawuf adalah sebuah pemikiran, aliran, dan ajaran lama yang telah ada sebelum Islam. Pokok-pokok dan hukum-hukumnya dikenal, mapan, dan tetap sebagaimana diakui oleh seluruh peneliti, baik dari kalangan sufi, non-sufi, maupun orientalis. Adapun orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya:

  • ada yang benar-benar merealisasikan tasawuf,
  • ada yang berada di bawah tingkatan itu,
  • dan ada pula yang hanya memiliki nama tanpa hakikatnya.

وَبِنَاءً عَلَى هَذَا: إِنْ أَرَدْنَا التَّعَرُّفَ عَلَى دِينٍ أَوْ نِحْلَةٍ أَوْ فِكْرَةٍ مَا، فَعَلَيْنَا أَنْ نَعْتَمِدَ مَصَادِرَهَا الَّتِي مِنْهَا نَبَعَتْ وَظَهَرَتْ وَاسْتَقَرَّتْ، مِنْهَا نَفْهَمُ حَقِيقَةَ الْفِكْرَةِ كَمَا هِيَ، وَلَا يَصِحُّ أَنْ نَلْجَأَ إِلَى الْمُنْتَسِبِينَ فَنَعْتَمِدَهُمْ مَصْدَرًا؛ إِذْ يَتَفَاوَتُونَ فِي الِالْتِزَامِ وَالتَّحَقُّقِ، كَمَا يَنْدُرُ أَنْ تَكُونَ جَمِيعُ حَرَكَاتِهِمْ مَرَدُّهَا اتِّبَاعَ قَوَاعِدِ الْفِكْرَةِ.

Berdasarkan hal itu, apabila kita ingin mengenal suatu agama, aliran, atau pemikiran tertentu, maka kita harus merujuk kepada sumber-sumber asli tempat pemikiran itu muncul, berkembang, dan menetap. Dari sumber-sumber itulah kita memahami hakikat pemikiran tersebut sebagaimana adanya. Tidak tepat jika kita hanya bersandar kepada para pengikutnya lalu menjadikan mereka sebagai sumber utama, karena mereka berbeda-beda dalam komitmen dan pengamalannya. Bahkan jarang sekali seluruh perilaku mereka benar-benar sesuai dengan kaidah dasar pemikiran tersebut.

فَالْإِسْلَامُ مَثَلًا: لَا تُعْرَفُ حَقِيقَتُهُ كَمَا هِيَ إِلَّا مِنْ خِلَالِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، أَمَّا مُحَاوَلَةُ مَعْرِفَةِ ذَلِكَ مِنْ خِلَالِ مَا يَصْدُرُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مَحْضُ الْخَطَإِ، فَلَيْسُوا كُلُّهُمْ يُطَبِّقُونَ الْإِسْلَامَ كَمَا هُوَ، وَلَيْسَ كُلُّ مَا يَصْدُرُ مِنْهُمْ بِالضَّرُورَةِ يَكُونُ عَنْ تَطْبِيقٍ لِتَعَالِيمِ الْإِسْلَامِ؛ إِذِ الْإِنْسَانُ فِي طَبْعِهِ اقْتِرَافُ الْحَسَنَةِ وَالسَّيِّئَةِ.

Misalnya Islam: hakikat Islam tidak dapat diketahui sebagaimana adanya kecuali melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Adapun mencoba mengenalnya melalui perilaku kaum muslimin semata, maka itu adalah kesalahan murni. Sebab tidak semua muslim menerapkan Islam sebagaimana mestinya, dan tidak semua yang muncul dari mereka pasti berasal dari penerapan ajaran Islam; karena manusia pada tabiatnya bisa melakukan kebaikan maupun keburukan.

وَكَذَلِكَ التَّصَوُّفُ لَا يُمْكِنُ مَعْرِفَةُ حَقِيقَتِهِ كَمَا هِيَ، إِلَّا بِالْوُقُوفِ عَلَى مَصَادِرِهِ الْأَصْلِيَّةِ، وَهُوَ الَّذِي نَشَأَ وَتَأَسَّسَ وَاسْتَقَرَّ فِي الثَّقَافَاتِ الْقَدِيمَةِ، بِشَهَادَةِ كَافَّةِ الْبَاحِثِينَ، أَمَّا الِاعْتِمَادُ عَلَى الْمُنْتَسِبِينَ التَّقْلِيدِيِّينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَخَطَأٌ مَنْهَجِيٌّ، فَلَيْسُوا كُلُّهُمْ يُطَبِّقُونَ التَّعَالِيمَ كَمَا هِيَ، وَلَيْسَ كُلُّ مَا يَصْدُرُ مِنْهُمْ بِالضَّرُورَةِ يَكُونُ عَنْ الْتِزَامٍ بِالتَّصَوُّفِ.

Demikian pula tasawuf; hakikatnya tidak dapat diketahui sebagaimana adanya kecuali dengan merujuk kepada sumber-sumber aslinya, yaitu sumber yang darinya tasawuf tumbuh, terbentuk, dan mapan dalam budaya-budaya kuno, sebagaimana diakui oleh seluruh peneliti. Adapun bersandar kepada orang-orang muslim tradisional yang menisbatkan diri kepada tasawuf, maka itu adalah kesalahan metodologis. Sebab tidak semuanya menerapkan ajaran tasawuf sebagaimana adanya, dan tidak semua perbuatan mereka pasti muncul dari komitmen terhadap tasawuf.

إِنَّ أَكْبَرَ خَطَإٍ فِي دِرَاسَةِ التَّصَوُّفِ: أَنْ يُنْظَرَ إِلَى الْإِمَامِ الصُّوفِيِّ فِي الْإِسْلَامِ عَلَى أَنَّهُ فِكْرَةٌ صُوفِيَّةٌ فِي كُلِّ مَا يَصْدُرُ عَنْهُ!!! إِنَّ مَعْنَى ذَلِكَ أَنْ يُلْصَقَ بِالتَّصَوُّفِ مَا لَيْسَ مِنْهُ، مِمَّا قَدْ يُنَاقِضُهُ، كَقَوْلِهِمْ: «عِلْمُنَا مُقَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ»(١)!!!

Kesalahan terbesar dalam mengkaji tasawuf adalah memandang seorang imam sufi dalam Islam bahwa semua yang keluar darinya pasti merupakan pemikiran sufi. Makna anggapan itu adalah menempelkan kepada tasawuf sesuatu yang sebenarnya bukan bagian darinya, bahkan mungkin bertentangan dengannya, seperti ucapan mereka: “Ilmu kami terikat dengan Al-Kitab dan Sunnah.”

فَهَذِهِ الْمَقُولَةُ تُوَافِقُ الْإِسْلَامَ؛ لِأَنَّ الْمَعْرِفَةَ فِي الْإِسْلَامِ مَصْدَرُهَا مِنْ خَارِجِ النَّفْسِ، مِنَ الْوَحْيِ، لَكِنْ لَا تُوَافِقُ التَّصَوُّفَ؛ لِأَنَّ الْمَعْرِفَةَ فِي التَّصَوُّفِ مَصْدَرُهَا مِنْ دَاخِلِ النَّفْسِ، مِنَ الذَّوْقِ، وَالْكَشْفِ، وَالْمَنَامِ.

Ucapan ini sesuai dengan Islam; sebab sumber pengetahuan dalam Islam berasal dari luar diri manusia, yaitu wahyu. Akan tetapi ucapan itu tidak sesuai dengan tasawuf; karena sumber pengetahuan dalam tasawuf berasal dari dalam diri, seperti rasa batin (dzauq), kasyaf, dan mimpi.

فَعِنْدَمَا يُطْلِقُ أَحَدُ الصُّوفِيَّةِ هَذِهِ الْمَقُولَةَ، فَمِنَ الْجِنَايَةِ نِسْبَةُ هَذَا الْأَصْلِ فِي التَّلَقِّي إِلَى التَّصَوُّفِ؛ لِأَنَّهُ يَتَنَاقَضُ مَعَهُ كُلِّيًّا.

Maka ketika salah seorang sufi mengucapkan perkataan ini, termasuk tindakan yang keliru apabila prinsip dasar dalam menerima ilmu tersebut dinisbatkan kepada tasawuf; karena prinsip itu bertentangan sepenuhnya dengan tasawuf.

وَالْوَاجِبُ هُنَا: وَضْعُ كُلِّ تَصَرُّفٍ يَصْدُرُ مِنَ الصُّوفِيَّةِ فِي سِيَاقِهِ الْخَاصِّ بِهِ الْمُوَافِقِ لِأُصُولِهِ، بِدُونِ أَنْ نَخْسِرَ جَمِيعَهَا فِي سِيَاقٍ وَاحِدٍ وَلَوْ تَشَتَّتَتْ أُصُولُهَا.

Yang wajib dilakukan di sini adalah menempatkan setiap tindakan atau ucapan yang berasal dari kaum sufi sesuai konteks khususnya yang selaras dengan prinsip-prinsipnya, tanpa mencampur seluruhnya ke dalam satu konteks walaupun dasar-dasarnya saling bertentangan.

فَالْقَائِلُ: «عِلْمُنَا مُقَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ» إِنَّمَا يَمْثُلُ الْإِسْلَامَ بِقَوْلِهِ هَذَا، فَلَا يَجُوزُ إِذَنْ تَرْكِيَةُ التَّصَوُّفِ بِهِ، نَعَمْ قَدْ يَكُونُ بَابًا لِتَزْكِيَةِ قَائِلِهِ، أَوْ دَفْعِ تُهْمَةٍ عَنْهُ، أَوْ إِحْسَانِ ظَنٍّ بِهِ، أَوِ الِاعْتِذَارِ لَهُ، لَكِنْ دُونَ زِيَادَةٍ.

Orang yang mengatakan, “Ilmu kami terikat dengan Al-Kitab dan Sunnah,” sesungguhnya dengan ucapan itu ia sedang merepresentasikan Islam. Karena itu tidak boleh menjadikan ucapan tersebut sebagai legitimasi bagi tasawuf. Ya, mungkin ucapan itu bisa menjadi alasan untuk memuji orang yang mengucapkannya, menolak tuduhan darinya, berbaik sangka kepadanya, atau memberi uzur kepadanya, namun tidak lebih dari itu.

وَلِذَا فَإِنَّ الْمَنْهَجَ الصَّحِيحَ هُوَ التَّفْرِيقُ بَيْنَ الْفِكْرَةِ وَالْمُنْتَسِبِينَ إِلَيْهَا، فَالْفِكْرَةُ الصُّوفِيَّةُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا مُخَالِفَةً لِلْإِسْلَامِ، أَمَّا الْمُنْتَسِبُونَ:
  • فَمِنْهُمْ كَذَلِكَ.
  • وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ.
  • وَمِنْهُمْ لَيْسَ كَذَلِكَ، مَعْذُورٌ بِجَهْلٍ، أَوْ قِلَّةِ بَصِيرَةٍ وَإِدْرَاكٍ، أَوْ شُبْهَةٍ، وَنَحْوِ ذَلِكَ.

Oleh karena itu, metode yang benar adalah membedakan antara sebuah pemikiran dengan orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya. Adapun pemikiran tasawuf itu sendiri baik secara batin maupun lahir, tasawuf itu bertentangan dengan Islam. Adapun orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya:

  • ada yang memang demikian,
  • ada yang tidak sampai seperti itu,
  • dan ada pula yang tidak demikian, karena mendapat uzur akibat kebodohan, kurangnya pemahaman dan kesadaran, adanya syubhat, dan semisalnya.

وَعَلَى ذَلِكَ فَلَا يَصِحُّ الِاحْتِجَاجُ بِأَحْوَالِ الْمُتَصَوِّفَةِ لِتَزْكِيَةِ التَّصَوُّفِ، كَأَنْ يُقَالَ: هَذَا إِمَامٌ صُوفِيٌّ كَانَ مُجَاهِدًا، وَهَذَا كَانَ عَبْدًا، وَهَذَا نَصَرَ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ، وَهَذَا قَالَ كَذَا مِنَ الْحَقِّ… إِلَخْ، فَكَيْفَ تَذُمُّونَ التَّصَوُّفَ؟!
Berdasarkan itu, tidak benar menjadikan keadaan sebagian kaum sufi sebagai hujah untuk memuji tasawuf. Misalnya dengan mengatakan: “Tokoh sufi ini seorang mujahid, yang itu seorang ahli ibadah, yang ini Allah menolong Islam melalui dirinya, dan yang itu mengatakan perkataan yang benar,” dan seterusnya. Lalu dikatakan: “Bagaimana mungkin kalian mencela tasawuf?”

فَكُلُّ هَذِهِ الْأَخْبَارِ صَحِيحَةٌ، وَفِي الطَّوَائِفِ الْأُخْرَى أَمْثِلَةٌ مِثْلُهَا، لَكِنْ لَيْسَ هَذَا هُوَ مَحَلَّ النِّزَاعِ، إِنَّمَا النِّزَاعُ فِي الْفِكْرَةِ ذَاتِهَا، فَهَلِ الْإِسْلَامُ يَقْبَلُ أَنْ يُضَمَّ إِلَى أُصُولِهِ الْقَوْلُ بِالْحُلُولِ وَالِاتِّحَادِ وَالْوَحْدَةِ، تَحْتَ أَيِّ ظَرْفٍ كَانَ؟

Semua berita itu bisa jadi benar, dan pada kelompok-kelompok lain pun terdapat contoh-contoh serupa. Akan tetapi itulah bukan pokok permasalahan. Yang diperselisihkan adalah pemikirannya itu sendiri. Apakah Islam menerima dimasukkannya keyakinan hulul, ittihad, dan wahdatul wujud ke dalam prinsip-prinsipnya dalam keadaan apa pun?

فَمَا يَكُونُ مِنْ مُتَصَوِّفَةِ الْإِسْلَامِ مِنْ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ، فَمَرَدُّهَا إِلَى تَعَالِيمِ الْإِسْلَامِ، لَا التَّصَوُّفِ، وَهُمْ فِي ذَلِكَ مُسْلِمُونَ مُسْتَنُّونَ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَيْسُوا مُتَصَوِّفَةً؛ فَالتَّصَوُّفُ لَا يَأْمُرُ بِجِهَادٍ، وَلَا بِطَلَبِ عِلْمٍ، وَلَا يُجَادِلُ فِي هَذَا إِلَّا مَنْ لَا يَعْرِفُ حَقِيقَةَ التَّصَوُّفِ كَمَا هِيَ، وَلِذَا كَانَ مِنَ الْخَطَإِ الْفَاحِشِ نِسْبَةُ هَذِهِ الْأَعْمَالِ ـ ذَاتِ الْمَقَامَاتِ الْعَالِيَةِ ـ إِلَى التَّصَوُّفِ.

Adapun amal-amal saleh yang dilakukan sebagian kaum sufi dalam Islam, maka itu kembali kepada ajaran Islam, bukan kepada tasawuf. Dalam hal itu mereka adalah muslim yang mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bukan karena tasawufnya. Sebab tasawuf tidak memerintahkan jihad, tidak pula menuntut ilmu. Tidak ada yang membantah hal ini kecuali orang yang tidak mengetahui hakikat tasawuf sebagaimana adanya. Karena itu termasuk kesalahan besar menisbatkan amal-amal mulia tersebut kepada tasawuf.

هَذَا هُوَ الْمَنْهَجُ الْعِلْمِيُّ: (مَعْرِفَةُ حَقِيقَةِ الْفِكْرَةِ مِنَ الْمَصْدَرِ، لَا مِنَ الْمُنْتَسِبِينَ).

Inilah metode ilmiah: “Mengetahui hakikat suatu pemikiran dari sumber aslinya, bukan dari orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya.”

غَيْرَ أَنَّ طَائِفَةً مِنَ الْبَاحِثِينَ فِي التَّصَوُّفِ لَمْ تُرَاعِ هَذَا الْمَنْهَجَ، فَاخْتَلَّ تَقْوِيمُهَا وَتَحْقِيقُهَا!! ذَلِكَ أَنَّهَا عَمَدَتْ إِلَى أَئِمَّةِ التَّصَوُّفِ فِي الْإِسْلَامِ، فَجَعَلَتْهُمْ مَصْدَرًا لِمَعْرِفَةِ صُورَةِ الْفِكْرَةِ الصُّوفِيَّةِ، فَنَسَبَتْ إِلَى التَّصَوُّفِ كُلَّ مَا صَدَرَ مِنْهُمْ!!!؟

Akan tetapi sebagian peneliti tentang tasawuf tidak memperhatikan metode ini, sehingga penilaian dan penelitiannya menjadi kacau. Hal itu karena mereka menjadikan para tokoh sufi dalam Islam sebagai sumber untuk memahami gambaran pemikiran tasawuf, sehingga mereka menisbatkan kepada tasawuf semua hal yang keluar dari para tokoh tersebut.

وَلَمَّا كَانَ أَئِمَّةُ التَّصَوُّفِ يَمْزِجُونَ فِي أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ بَيْنَ تَعَالِيمِ التَّصَوُّفِ الَّذِي اسْتَمَدُّوهُ مِنَ الثَّقَافَاتِ الْقَدِيمَةِ، وَتَعَالِيمِ الْإِسْلَامِ الَّذِي اسْتَمَدُّوهُ مِنْ بَعْضِهِمْ؛ اخْتَلَطَ الْأَمْرُ عَلَى هَؤُلَاءِ الْبَاحِثِينَ، فَظَنُّوا ذَلِكَ الْمَزِيجَ هُوَ الصُّورَةَ الْحَقِيقِيَّةَ لِلتَّصَوُّفِ!!(١)

Karena para tokoh tasawuf mencampurkan dalam ucapan dan perbuatan mereka antara ajaran tasawuf yang mereka ambil dari budaya-budaya kuno dengan ajaran Islam yang mereka ambil dari sebagian ajaran agama, maka perkara itu menjadi samar bagi para peneliti tersebut. Mereka pun mengira bahwa campuran itulah hakikat asli tasawuf.

(١) كَانَ هَذَا سَبِيلَ كُلِّ مَنْ قَسَّمَ التَّصَوُّفَ إِلَى: إِسْلَامِيٍّ، وَفَلْسَفِيٍّ، وَهُوَ تَقْسِيمٌ فَاسِدٌ؛ لِأَنَّهُ يَجْعَلُ مِنَ الْفِكْرَةِ الْوَاحِدَةِ جَامِعَةً لِلنَّقِيضَيْنِ، وَهُمَا إِيمَانٌ وَكُفْرٌ، أَمَّا الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا فَمُحَالٌ، وَالتَّقْسِيمُ الصَّحِيحُ هُوَ الْمُتَعَلِّقُ بِالْأَشْخَاصِ، فَيُقَالُ: مُتَصَوِّفَةٌ إِسْلَامِيُّونَ، وَمُتَصَوِّفَةٌ فَلَاسِفَةٌ، وَهَذِهِ مَسْأَلَةٌ تَحْتَاجُ إِلَى بَسْطٍ، لَيْسَ هَذَا مَوْضِعَهُ.

Inilah metode yang ditempuh oleh setiap orang yang membagi tasawuf menjadi “tasawuf Islami” dan “tasawuf filsafati”. Pembagian ini dianggap rusak menurut penulis, karena menjadikan satu pemikiran mengandung dua hal yang saling bertentangan: iman dan kufur, padahal menggabungkan keduanya adalah mustahil. Pembagian yang benar menurutnya adalah ditinjau dari orangnya, sehingga dikatakan: “ada sufi yang Islami” dan “ada sufi yang filosofis.” Namun pembahasan ini memerlukan uraian panjang dan bukan tempatnya di sini.