Page Nav

HIDE

Artikel Baru :

latest

Kitab at Tibyan Syekh al Ajurri 1

  قَالَ الْإِمَامُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: «أَحَقُّ مَا اسْتُفْتِحَ بِهِ الْكَلَامُ: الْحَمْدُ لِمَوْلَانَا الْكَرِيمِ (١) ،  وَ...

 




قَالَ الْإِمَامُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ:

«أَحَقُّ مَا اسْتُفْتِحَ بِهِ الْكَلَامُ: الْحَمْدُ لِمَوْلَانَا الْكَرِيمِ(١)، وَأَفْضَلُ الْحَمْدِ مَا حَمِدَ بِهِ الْكَرِيمُ نَفْسَهُ، فَنَحْنُ نَحْمَدُهُ بِهِ (٢) :

Perkataan yang paling berhak untuk dijadikan pembuka pembicaraan adalah pujian kepada Rabb kita Yang Maha Mulia (1), Dan sebaik-baik pujian adalah pujian yang Allah gunakan untuk memuji diri-Nya sendiri. Maka kita pun memuji-Nya dengan pujian tersebut (2):

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (٣)﴾»

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan sedikit pun (3)."

___________________________________________________________

(١) بَدَأَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ بِحَمْدِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَهُوَ أَحَقُّ مَا بُدِئَ بِهِ الْكَلَامُ، وَأَوْلَى مَا بُدِئَ بِهِ، وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ افْتَتَحَ كِتَابَهُ بِالْحَمْدِ، وَافْتَتَحَ عَدَدًا مِنْ سُوَرِهِ بِالْحَمْدِ.

(1) Penulis رحمه الله memulai dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dan itulah sesuatu yang paling layak dijadikan pembuka ucapan. Allah سبحانه وتعالى sendiri membuka Kitab-Nya dengan pujian, dan membuka sejumlah surat dalam Al-Qur’an dengan lafaz pujian.

(٢) قَوْلُهُ: «فَنَحْنُ نَحْمَدُهُ بِهِ»؛ أَيْ: بِمَا حَمِدَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ.

(2) Ucapan beliau: “Maka kami memuji-Nya dengan pujian tersebut,” maksudnya: dengan pujian yang Allah gunakan untuk memuji diri-Nya sendiri di dalam Kitab-Nya.

(٣) لَمَّا كَانَ مَوْضُوعُ هٰذَا الْكِتَابِ عَنْ آدَابِ حَمَلَةِ الْقُرْآنِ وَأَخْلَاقِهِمْ نَاسَبَ الْبَدْءَ بِهٰذَا الْحَمْدِ لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى مِنَّتِهِ الْعَظِيمَةِ، وَفَضْلِهِ الْكَرِيمِ بِإِنْزَالِ هٰذَا الْكِتَابِ عَلَى رَسُولِهِ ﷺ، مُشْتَمِلًا عَلَى مَا فِيهِ هِدَايَةُ الْخَلْقِ وَصَلَاحُهُمْ وَفَلَاحُهُمْ، وَهٰذِهِ أَكْبَرُ النِّعَمِ وَأَفْضَلُهَا عَلَى الْإِطْلَاقِ.

(3) Karena tema kitab ini membahas tentang adab dan akhlak para pengemban Al-Qur’an, maka sangat sesuai memulainya dengan pujian kepada Allah Ta‘ala atas nikmat-Nya yang agung dan karunia-Nya yang mulia, yaitu dengan diturunkannya kitab ini kepada Rasul-Nya ﷺ. Kitab tersebut mengandung petunjuk, kebaikan, dan keberuntungan bagi manusia. Dan ini merupakan nikmat yang paling besar dan paling utama secara mutlak.

وَالْمُرَادُ بِعَبْدِهِ: مُحَمَّدٌ ﷺ، وَهُوَ آخِرُ الْمُرْسَلِينَ، وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ.

Yang dimaksud dengan “hamba-Nya” adalah Nabi Muhammad ﷺ, beliau adalah penutup para rasul dan nabi terakhir.

وَالْمُرَادُ بِالْكِتَابِ: الْقُرْآنُ، وَهُوَ خَاتَمُ الْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ، وَآخِرُ الْكُتُبِ عَهْدًا بِاللَّهِ جَلَّ وَعَلَا، وَهُوَ أَعْظَمُ الْكُتُبِ وَأَجَلُّهَا وَأَفْضَلُهَا.

Yang dimaksud dengan “Al-Kitab” adalah Al-Qur’an, yaitu kitab samawi terakhir yang diturunkan Allah. Ia adalah kitab paling agung, paling mulia, dan paling utama dibanding seluruh kitab lainnya.

وَوَصَفَ اللَّهُ تَعَالَى هٰذَا الْكِتَابَ بِوَصْفَيْنِ: بِأَنَّهُ لَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، وَبِأَنَّهُ قَيِّمٌ.

Allah Ta‘ala menyifati kitab ini dengan dua sifat: tidak ada kebengkokan padanya, dan bahwa ia adalah kitab yang lurus lagi tegak.

أَمَّا وَصْفُهُ بِأَنَّهُ لَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا؛ أَيْ: أَنَّ أَخْبَارَهُ لَا كَذِبَ فِيهَا، وَأَوَامِرَهُ لَا ظُلْمَ فِيهَا، فَهُوَ كِتَابٌ لَا عِوَجَ فِيهِ؛ فَلَا كَذِبَ فِي أَخْبَارِهِ، وَلَا ظُلْمَ فِي أَوَامِرِهِ.

Adapun sifat bahwa Al-Qur’an tidak memiliki kebengkokan, maksudnya adalah berita-beritanya tidak mengandung dusta, dan perintah-perintahnya tidak mengandung kezaliman. Maka Al-Qur’an adalah kitab yang lurus; tidak ada kebohongan dalam berita-beritanya dan tidak ada kezaliman dalam hukum serta perintah-perintahnya.

وَمَعْنَى وَصْفِهِ بِأَنَّهُ قَيِّمٌ؛ أَيْ: مُسْتَقِيمٌ، وَأَخْبَارُهُ أَخْبَارُ فَضْلٍ وَخَيْرٍ، تَقْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى كُلِّ فَضِيلَةٍ وَرِفْعَةٍ، وَأَوَامِرُهُ أَوَامِرُ صَلَاحٍ وَزَكَاةٍ؛ تَقْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى مَعَالِي الدَّرَجَاتِ، وَرَفِيعِ الرُّتَبِ، وَهِدَايَاتُهُ صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ؛ تَقْضِي بِمَنْ لَزِمَهَا إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

Makna sifat Al-Qur’an sebagai “qayyim” adalah lurus dan tegak. Berita-beritanya penuh kebaikan dan keutamaan yang mengantarkan seorang hamba kepada kemuliaan dan derajat tinggi. Perintah-perintahnya adalah perintah yang membawa perbaikan dan kesucian jiwa, yang mengangkat seorang hamba menuju kedudukan mulia. Dan petunjuk-petunjuknya adalah jalan yang lurus, yang akan mengantarkan siapa saja yang berpegang teguh kepadanya menuju surga penuh kenikmatan.

Tidak ada komentar